Cangkang

Di hari ketika manusia dilahirkan, dia bukan keluar dari cangkang. Melainkan rahim seorang malaikat. Yang dengannya, seluruh semesta memberi doa. Merestui.

Tetapi, apakah sebenarnya cangkang? Dialah kulit luar atau rumah perlindungan.

Perkara hidup, kadang memaksa kita untuk ke luar dari cangkang. Ada banyak penyebabnya, bahkan kadang gak sampai bikin tercengang. Atau justru, saking impulsifnya, malah bikin terkejoed terheran-heran. Karena keterpaksaan atau kerelaan meninggalkan cangkang terjadi dadakan. .

Ada sakit. Gembira. Bahagia. Terluka. Dan permen nano, rame rasanya. Tetapi, yang betul-betul mengarahkan keputusan untuk berani, mau, atau terpaksa ke luar cangkang adalah diri kita, satu-satunya. Dengan tidak menafikan Sang Maha Satu, tentunya. .

Keluar cangkang tak selalu bermakna hebat. Positif. Dan luar biasa. Kadang ia juga adalah sikap bijaksana. Tak jarang juga malah membahayakan pembuat keputusannya. .

Kalau kubilang, ketidaknyamanan pun adalah kenyamanan buat orang lain. Tetapi, orang-orang yang tak mampu membuat keputusan untuk melakukan hal menantang, janganlah kalian menjelek-jelekkan. Karena kita tidak benar tahu, bagaimana dia harus memutuskan.

_____

Cerita ini dipersembahkan atas lamunan selagi mikir caption yang pas untuk citra cangkang tonggeret ini. Dipotret saat ke Cuban Talun bulan Desember 2018

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai
close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star