Lokasinya tidak benar di pojok Jakarta, tetapi di Pasar Modern Santa, toko buku indie POST bisa disebut berada di pojokan. Di lantai tiga tepatnya bersebelahan dengan Mie Cino. Jangan tanya saya lokasi arah mata anginnya, karena itu selalu luput dari perhatian. Tetapi coba tanya saja toko buku yang tidak banyak, bahkan seingatku POST adalah satu-satunya toko buku di Pasar Santa. POST adalah salah satu hidden gem Jakarta. Pojok favoritku sejak mengenalnya akhir 2016 silam.

POST ini unik. Ukurannya nggak besar. Sekitar 3×4 atau 4×5 meter saja, barangkali (maafkan kemampuan mengukur jarakku). Dipartisi jadi tiga ruang. Di paling depan, sebuah meja dan empat kursi persis di tengah bagian depan, melekat ke tulang pintu gulung (rolling door). Sementara rak buku menempel di tiga sisi dinding sisanya. Kanan, kiri, dan bagian tengah. Sebelum akhirnya bisa masuk ke ruang tengah yang lebih kecil, sekitar satu meter saja. Ada rak di sisi kanan dan meja kayu kecil di sisi kiri dengan kursi kayu dua berjajar. Koleksi yang di rak tengah itu kalau tidak buku berbahasa Inggris ya buku-buku terbitan POST Press. Yep, POST juga punya penerbitan (pengen juga suatu hari bukuku bisa diterbitkan POST dan mejeng di situ). Sudah ada Semasa, Aku, Meps dan Beps, serta Nawila 2 yang kupunya dari terbita POST Press.
Di ruang ke tiga, alias paling belakang dan pojok, kita sebut saja ruang kantor atau admin POST. Dulu Nisa yang biasa di sana, atau mas Teddy dan Maesy, pemiliknya. Kadang ada juga mba Reda Gaudiamo. Itu nanti lagi kita ceritakan. Mungkin di paragraf berikut.
Seperti sudah disebut sebelumnya, POST itu buah pikir dan cita-cita sepasang suami istri Teddy dan Maesy. Keduanya gemar membaca. Membaca apa saja. Seja kecil mula. Rencana membuat toko buku sendiri muncul setelah mereka membaca Rumah Kopi karya Yusi. “Bukunya kok keren,” kata Teddy waktu sempat ngobrol dulu, sekitar 27 Januari 2018. Dan entah bagaimana, mereka pun punya kesematan berkenalan dengan Yusi saat si penulis buku menggelar hajatan sunatan putranya.
PHOTOPIE by @lisvifadlillah
Tepat Juli 2014, toko buku indie POST buka. Tapi ada yang unik di enam bulan pertama. Teddy dan Maesy tidak mengkhususkan POST sebagai toko buku rupanya. Tetapi, hanya ingin berkegiatan dan menyediakan ruang publik, ’’Niat awal sekali karena ingin berkegiatan di sini (di Pasar Santa). Ingin ada satu ruang publik alternatif di Jakarta yang mengusung nilai-nilai independen,’’ tambah Teddy.
Pada enam bulan pertama itu pula, Teddy memberikan ruang, POST, bagi siapa saja untuk menggunakannya. Seniman yang ingin pameran. Penulis yang ingin berbincang dengan pembacanya. Para pembaca yang ingin saling bertukar cerita tentang buku yang masing-masing disuka. Kegiatan itu hanya berlangsung setiap akhir pekan. Waktu Teddy dan Maesy tidak bekerja. Yang pada akhirnya, setelah enam bulan berjalan, mereka menetapkan hati untuk fokus hanya pada toko buku saja.
Photopie by @lisvifadlillah
Pojok kecil bernama POST tersebut sudah hampir enam tahun. Teddy boleh merasa bahagia lantaran cita-citanya menghadirkan ruang literasi di tengah-tengah pasar terwujud. Bonusnya, dia mendapatkan konsep toko buku indie yang sesuai harapan: intim dan hangat. Karena yang datang adalah orang-orang dengan minat dan semangat sama. Interaksi antar pengunjung pun wajar tercipta. Tempat mungil itu pula sering jadi saksi pasangan yang kasmaran dan saling jatuh cinta menghabiskan sore sekadar membaca atau mencari judul buku favorit bersama.
Satu yang Teddy tak lupa tekankan akan kesukaanya pada pasar. Pasar itu sangat kental terasa sense of communal-nya. Semua penjual guyub. “Misal saja saat dia punya acara, bangku-bangku bisa dia pinjam dari mana saja,” katanya. Sebagai timbal balik, Teddy maupun Maesy tidak segan merekomendasikan kedai-kedai makan atau mie di sekitarnya pada pengunjung Post. Inkulisiftas pasar yang demikkian itulah mampu memikat Teddy dan Maesy untuk tetap menghidupkan literasi dari salah satu sudutnya melalui POST.

Photopie by @lisvifadlillah
P.S: Meski kutipan obrolan yang kusisipkan dalam catatan ini terjadi sekitar 2018, tetapi sebenarnya ada beberapa kali pertemuan dengan mas Teddy dan Maesy yang tak kalah menyenangkan meski intensitsnya sangat jarang. Bahkan, ternyata baru balik ke POST satu tahun kemudian. Begitulah POST, meski aku pribadi sering tak di Jakarta, begitu di Ibu Kota, aku akan sempatkan sekali saja singgah di pojok favoritku. Kali terakhir, 29 Februari 2020 lalu, berkunjung dengan Geeta, Nuri, dan Julz. Sebagai farewell dengan Julz karena dia balik ke Bandung. Yap, selain tempat kesukaanku, POST itu tempat main paling sering dikunjungi bareng Julz. Entah jadi pojok favoritnya juga selama di Jakarta. Gonna missed the moment visit this lil hidden gem we used to visit, Julz.

Photopie by @lisvifadlillah





One reply to “POST: Pojok Favorit di Jakarta”