Sore Hore, Jogging Senja yang Selalu Buat Gembira

Dulu, sewaktu menjadi native di desa sendiri, semua hal yang ada di sekeliling tidak terasa terlalu istimewa. Semua biasa saja. Barangkali karena sudah kusaksikan semuanya sejak semula.

Sawah-sawah yang menghampar di tanah terasering. Kebun-kebun lebat dengan pohon sengon atau mahoni karena hujan turun sering. Langit yang biru dengan awan-awan putih menggantung kala musim kering. Bintang-bintang dari utara hingga selatan saling kerling.

Namun, sejak kuinjakkan kaki di tanah orang, cara pandang dan mengenang pun berbeda. Segala yang dulu tampak biasa, sekarang menjadi begitu istimewa. Begitu memesona. Entah itu sawah, entah itu jalanan di gang-gang sebelah rumah.

Salah satu yang belakangan jadi tempat favorit adalah jalanan menuju dusun Pringjajar. Tepat berada di belakang sekolah tingkat SMPku dulu, MTs Muhammadiyah Plompong.

Di jalanan itu, tak lebih dari sawah Wa Denah, Wa Khuriyah, Wa Toip, Lik Wahyudin, Mas Asyik, hingga Yu Mus yang kukenali terhampar. Sisanya, milik orang-orang yang tak pernah langsung kukenal.

Saat sore, berjalan atau jogging di sana menjadi salah satu kegemaran. Pemandangan yang terasa megah, matarahi yang cerah, angin sepoi-sepoi yang mengusir gerah juga sangat memanjakan manusia yang jarang lari dan kadang ogah berolahraga ini.

Sesekali, orang-orang yang kukenal atau yang tidak familiar dari dusun sebelah lewat. Saling sapa, saling senyum seperlunya. Anehnya, dulu olahraga di kampung terasa bikin malu dan benar-benar enggan kulakukan.

Terlebih sebagai perempuan. Bukan pemandangan umum bagi kami olahraga di tempat terbuka. Namun, rupaya sekarang masyarakat lebih menerima. Bahkan, remaja putri kami ikut kompetisi sepak bola di berbagai tempat. Nah, belakangan juga, mereka dan ibu-ibu lagi gandrung latihan bola voli. Nanti boleh kuceritakan yang ini.

Di jalanan belakang sekolah itu juga, dulu kami suka main layangan. Sampai sekarang pun kalau sedang musimnya, anak-anak masih main layangan di sana sih. Dan sekarang sedang tidak musim.

Selain layangan, aku ingat pernah menapaki jalanan itu dengan beragam kegiatan sekolah: memindahkan batu-batu dari sungai untuk bantu proses pembangungan gedung kelas, atau “mencari jejak” saat kemah pramuka maupun masa orientation sekolah. Untuk kegiatan ke dua, kami lewati jalanan itu di siang dan malam hari. Bahkan dengan bumbu-bumbu menakuti. Haha lucu sekali.

Nah, sore kemarin adalah yang pertama lagi jogging sore-sore di jalan belakang sekolah setelah empat bulan meninggalkan rumah ke ibu kota. Suasananya langsung membuat hati terasa hangat. Apalagi hamparan gunung yang tak kukenal dari kejauhan tampak gagah. Indah.

Kalau mau lihat beberapa foto hasil kemarin (9.9.21) boleh cek di bawah ya. Mungkin banyak yang terlihat sama tapi bagiku tetap luar biasa. Khususnya, karena aku sangat suka melihat pohon dan awan-awan, sawah-sawah dengan ragam pancaran warna serta langit yang tampak biru.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai
close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star